Penyanyi Dangdut Nella Kharisma Penuhi Panggilan Penyidik Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim


Mbah Heru    18 December 2018(04:48)   POLDA
img

Tribratanewspoldajatim.com: Menumpang kendaraan Toyota Innova warga silver nopol AG 1733 LA berhenti  di depan gedung Ditreskrimsus Polda Jatim, turun wanita berambut lurus sebatas bahu dan mengenahkan baju biru celana jeans, inilah adalah Nella Kharisma (NK), sekitar  pukul 11.10 WIb.

NK, yang dijadikan saksi terkait endorse produk kosmetik oplosan merek Derma Skin Care (DSC) memenuhi panggilan penyidik untuk memberi keterangan. Kehadiran Nella Kharisme (NK) di Polda Jawa Timur untuk memberikan kesaksian terkait endorse produk kosmetik oplosan  bermerek Derma Skin Care  (DSC) Beauty. Sedangkan untuk Via Vallen (VV) dijadwalkan  20 Desember  2018 mendatang, kata Kasubdit Tipidter, Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Tofiq Ripto Himawan, Selasa (18/12/2018).

Tentunya, kehadiran para artis endorse produk kecantikan oplosan bermerek Derma Skin Care atau DSC Beauty, sangat diharapkan penyidik untuk menelusuri kasus tersebut.

Selain dua artis asal Jawa Timur, NK dan VV, penyidik juga akan segera melayangkan surat panggilan terhadap artis lainnya yang berhubungan dengan kasus tersebut.

"Keterangan para endors sangat kita butuhkan. Untuk itu selain NK dan VV, kita juga akan segera melayangkan surat panggilan terhadap artis lainnya," ujarnya.

Sebelumnya, Kepolisian Daerah Jawa Timur menjadwalkan akan memanggil tujuh artis yang menjadi endorse produk kecantikan oplosan bermerek Derma Skin Care atau DSC Beauty. Tujuh artis perempuan yang digandeng tersangka menjadi endorse di media sosial Instagram adalah VV, NR, OR, MP, NK, DK, dan DJB.

Sejumlah artis kenamaan diduga menjadi "endorse" produk kosmetik oplosan (illegal) beromzet Rp 300 juta per bulan, yang diungkap Ditreskrimsus Kepolisian Daerah Jawa Timur.

Dalam kasus ini, Polda Jatim mengamankan seorang tersangka berinisial KIL. Yusep menjelaskan, tersangka KIL memproduksi kosmetik dengan merek "DSC" (Derma Skin Care) Beauty. Kosmetik tersebut diproduksi di rumahnya di Kediri dengan merek yang tidak terdaftar di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

Tersangka menggunakan bahan untuk campuran dari sejumlah merek terkenal pada produk kosmetik ilegal yang sudah dia jalankan selama dua tahun itu. Merek terkenal itu antara lain, Marcks Beauty Powder, Mustika Ratu, Sabun Papaya, Vivo Lotion, Vasseline, Sriti dan lain-lain.

Yusep menuturkan, produk-produk tersebut kemudian dikemas ulang ke dalam tempat kosong dengan merek DSC Beauty. Sementara untuk memasarkan produk tersebut, tersangka mempromosikan melalui media sosial.

"Artis-artis yang menjadi endorse, mengunggah produk ini (DSC Beauty) di instagram," tutur Yusep.

Tersangka KIL menjual produknya dengan banderol mulai dari Rp 350.000 hingga Rp 500.000 per paketnya. Setiap bulan, tersangka mampu menjual sebanyak 750 paket dengan wilayah penjualan mulai dari Surabaya, Jakarta, Bandung, Medan dan Makassar.

Dalam perkara ini, tersangka dijerat Pasal 197 jo Pasal 106 ayat (1) UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 1,5 miliar. (mbah)

 

KOMENTAR


BERITA YANG DISARANKAN
Tidak ada Tag
Berita Tidak Di Temukan