Dirreskrimsus dan Kasubdit I Indagsi Polda Jatim Saksikan Pembuatan Snack Berbahaya Itu


Mbah Heru    14 March 2019(10:06)   POLDA
img

Tribratanewspoldajatim.com: Berikut cara membuat makanan ringan (snack) berbahaya bagi kesehatan produk UD “Davis” berlokasi di  Dusun Dodokan RT 21/RW 03, Desa  Tanjungsari, Kecamatan Taman,Sidoarjo, Jawa Timur.

Industri makanan ringan illegal  berbahaya itu  digerebek oleh anggota Unit III Subdit I Indagdi, Ditreskrimsus, Polda Jatim. Lalu karyawannya, disuruh untuk mempratekan mulai awal hingga makanan ringan itu siap untuk dimakan.

Cara membuatnya diawali  oleh karyawan yang ditunjuk  khusus membuat adonan makanan ringan itu. Mula mula megambil air sumur yang sudah ditaruh di bak besar. Sesuai ukuran, air sumur dimasak hingga mendidih.

Begitu mendidih lalu diberi tawas secukupnya buat mencampur tepung (adonan) lalu diberi bumbu bumbu kemudian dimasukkan mesin untuk digiling. Campuran lain agar makanan ringan yang diproduksi merasa enak, maka diberi penyedap rasa.

 Makanan ringan yang diproduksi UD “Davis” menggunakan bahan berbahaya antara lain campuran tawas dan bumbu yang sudah tergolong kadaluarsa. Jenis produk makanan ringan yang  sudah jadi sekaligus sudah diberi penyedap rasa lalu diberi label berupa plus bonsai jenis pilus Mexico Balado, Jagung Bakar,pilus kapsul rasa bawang, rasa balado, rasa rujak Aceh dan  rasa bawang mentega serta pilus rasa  Teriyaki. Komposisi makanan ringan tersebut menggunakan bahan seperti tepung tapioca, garam,  cabe, penyedap rasa, rempah rempah, minyak dan sayur.

Sebagaiana diketahui, bahwa Dirreskrimsus Polda Jatim Kombes Akhmad Yusep Gunawan didampingi AKBP Ambaryadi dan Kompol Ernesto serta dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan maupun Balai POM Sidoarjo, Kamis (14/3/2019) mengatakan, kasus itu melibatkan tersangka berinisial D, selaku pemilik Usaha Dagang (UD) “Davis” yang berlokasi di Dusun Dodokan, Desa Tanjungsari, Taman, Sidoarjo. 

Produksi makanan ringan tersebut dilakukan sejak 3 tahun silam, dan beromset Rp 300 juta per bulan atau 1 ton per hari bisa meraup Rp 8,2 juta. Harga jual Rp 17 ribu per kilonya. Makanan yang tergolong berbahaya itu dipasarkan di wilayah Jawa Timur. (mbah)

 

KOMENTAR


BERITA YANG DISARANKAN
Tidak ada Tag
Berita Tidak Di Temukan