Literasi Digital Sebagai Strategi Merespons Ujaran Kebencian di Media Sosial


Mbah Heru    03 July 2017(01:07)   FORUM
img

Tribratanewspoldajatim.com: Media Ssosial dan Intensitas Ujaran Kebencian dalam beberapa tahun terakhir terjadi revolusi dalam proses komunikasi antar manusia. Kehadiran internet sebagai bentuk media baru membentuk pola baru komuinikasi antar masyarakat. Menurut ilmuan komunikasi Dennis Mcquail menyebut satu perubahan yang paling penting ialah meningkatnya interaktifitas dan konektifitas.

Media sosial sebagai salah satu bentuk media baru menjadi fenomena di dunia termasuk Indonesia dengan peningkatan jumlah pengguna yang sangat drastis. Data Asosiasi Pengguna Jaringan Internet Indonesia per Januari 2016 menyebut ada 79 juta pengguna media sosial di Indonesia.

Secara konsep, peran dasar media sosial untuk berbagi informasi, komunitas virtual,dan forum diskusi. Peran tersebut dapat dicapai karena sifatnya yang partisipatif,terbuka, mendorong percakapan, komunitas, dan keterhubungan antar pengguna. Permasalahannya, keleluasaan berdiskusi di media sosial ini menyiratkan beberapa dampak negatif. Salah satu yang dipotret ialah hadir dan meningkatnya intensitas ujaran kebencian

Wacana ujaran kebencian ini semakin serius manakala banyak kasus kekerasan yang terjadi akibat provokasi via media sosial. Sebagai contoh kasus SARA yaitu pembakaran Masjid Tolikara di Papua menimbulkan keriuhan yang meluas karena simpang siurnya informasi di media sosial.

Merespon banyaknya kasus yang diakibatkan oleh ujaran kebencian, Kepolisian Republik Indonesia menerbitkan Surat edaran yang mengatur tentang hate speech, atau ujaran kebencian. Jendral Badrodin Haiti, Kepala Polisi RI saat itu, mengeluarkan Surat Edaran (SE) bernomor SE/6/X/2015 pada 8 Oktober lalu.

Terbitnya surat edaran ini mendapat respon beragam. Sebagian mendukung dengan alasan intensitas ujaran kebencian yang makin mengkhawatirkan. Di satu sisi, ada juga yang memperingatkan kejelasan surat tersebut agar tidak menjadi instrumen aparat untuk membatasi kebebasan berpendapat. (mbah)

Penulis : Suko Widodo

 

KOMENTAR


BERITA YANG DISARANKAN
Tidak ada Tag
Berita Tidak Di Temukan