Suko Widodo: Media Sosial Sebagai Instrumen Deradikalisasi


Mbah Heru    21 August 2017(10:28)   FORUM
img

Tribratanewspoldajatim.com: Sebanyak 79 Perguruan Tinggi, pada tangal 27 Juli 2017 lalu mengadakan pertemuan yang bertajuk “ Rembug Nasional “ di Denpasar Bali. Pertemuan yang dihadiri petinggi kampus (kaum cendekiawan) dari seluruh Indonesia tersebut secara khusus membahas tentang isu gerakan radikalisme yang dalam beberapa waktu terakhir ini dinilai meresahkan kehidupan berbangsa di Indonesia.

Persoalan yang juga menjadi perhatian besar dalam pertemuan itu adalah adanya sinyalemen bahwa saat ini sejumlah anggota masyarakat sangat mudah terprovokasi untuk merongrong kebangsaan dan kenegaraan. Mereka, karena tidak memiliki pengetahuan memadai mudah larut dalam provokasi gerakan radikalisme, yang muaranya mengarah pada penghancuran bangsanya sendiri (Indonesia).

Radikalisme dalam artian bahasa berarti paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik dengan cara kekerasan atau drastis. Namun, dalam artian lain, esensi radikalisme adalah konsep sikap jiwa dalam mengusung perubahan. Tetapi dalam wikipedia Radikalisme berarti suatu paham yang dibuat-buat oleh sekelompok orang yang menginginkan perubahan atau pembaharuan sosial dan politik secara drastis dengan menggunakan cara-cara kekerasan.

Penggunaan Media Untuk Radikalisme dalam satu dasa warsa terkahir ini, ditenggarai gerakan radikalisme telah menyusup dalam berbagai elemen di Indonesia. Gerakan radikal yang terjadi di Indonesia tidak lepas dari jaringan gerakan radikal internasional. Selain website, meddia sosial juga telah menjadi alat cukup efektif bagi kelompok radikal terorisme sebagai instrumen propaganda, pembangunan jaringan, dan rekrutmen keanggotaan yang bersifat lintas batas negara.

Kelompok ISIS menjadi satu model gerakan terorisme yang secara cerdas dan fasih menggunakan kemajuan teknologi dan informasi, khususnya media sosial sebagai alat propaganda dan rekrutmen keanggotannya. Melihat fenomena tersebut, pemerintah Indonesia tentunya tidak tinggal diam, berbagai upaya telah dilakukan untuk meredam derasnya arus propaganda radikal di dunia maya. Dalam kebijakannya untuk menangkal gerakan radikal, pemerintah telah melakukan dua keputusan penting.

Pemblokiran ini sendiri memang menuai pro dan kontra dari berbagai kalangan, namun perlu diakui bahwa upaya pemerintah dalam mencegah berkembangnya bibit teroris memang perlu dilakukan dalam rangka mengantisipasi penyebaran informasi provokatif dari kelompok-kelompok garis keras di dunia maya.

Perangkat teknologi komunikasi berbasis internet, seperti website, medsos dan lain sebagainya kini harus dioptimalkan sebagai instrument untuk mendekostruksi gerakan radikalisme. Dengan bersinergi antar berbagai pihak, khususnya kaum muda, dapat dikembangkan konten pesan – pesan yang konstruktif untuk menjaga masyrakat terhindar dari provokasi yang mendokuntruksi keberadaan NKRI dan demi keutuhan NKRI. (mbah)

Penulis: Suko Widodo

KOMENTAR


BERITA YANG DISARANKAN
Tidak ada Tag
Berita Tidak Di Temukan